Ana səhifə

Menjadi Da’i-Da’iyah Handal Panduan Lengkap Menjadi Penceramah/Pembicara Piawai


Yüklə 279.68 Kb.
səhifə1/5
tarix09.05.2016
ölçüsü279.68 Kb.
  1   2   3   4   5

Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang sholeh dan berkata: “sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?”

(QS: Fushilat: 33).



Menjadi

Da’i-Da’iyah

Handal

  • Panduan Lengkap Menjadi Penceramah/Pembicara Piawai

  • Contoh-contoh pidato menarik

  • Kata-kata motivasi dan penggugah hidup dari para ahli dan hukama





Ustadz Baharuddin

Da’i Muda Sumatera Utara 2006

Kata Pengantar
أَلْحَمْدُ لِلهِ نَسْتَعِيْنَهُ ونَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّأَتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
Alhamdulillah, berkat rahmat dan hidayah Allah Swt penulis dapat menyelesaikan penyusunan buku “Menjadi Da’i Da’iyah Handal” untuk Santriwan/Santriwati. Sekalipun buku ini ditulis untuk Santriwan/ Santriwati tetapi, buku ini layak dibaca oleh semua kalangan yang ingin menjadi Da’i dan Da’iyah atau pembicara handal.

Buku ini berisikan tentang panduan lengkap menjadi penceramah atau pembicara yang piawai. Agar tampak lebih cantik dan sempurna, tak lupa penulis memuat dan melengkapinya dengan contoh-contoh pidato menarik dan kata-kata motivasi dari para ahli dan hukama (orang-orang bijak).

Contoh-contoh pidato yang penulis muat dalam buku ini dimana materi pidatonya sudah memenuhi criteria pidato yang menarik dan layak untuk ditampilkan pada festival lomba pidato.

Kepada seluruh ikhwan pembaca, penulis menanti sumbangsihnya atas buku ini agar kedepan lebih baik lagi.

Kepada pembaca yang budiman, bila Anda ingin memberikan kritik, saran, support atau komentar yang membangun demi perbaikan buku ini kedepan, Anda dapat mengirimkannya ke mobile phone : 081260737187.

Penulis berharap semoga buku ini dapat memberikan manfaat bagi santriwan/santriwati dan kalangan yang lainnya.


Medan, 7 Mei 2011

Ustadz Baharuddin

Da’i Muda Sumatera Utara 2006



Daftar Isi

Kata Pengantar.………………………………………………….........................…………… 1

Bab Pertama: Panduan Lengkap Menjadi Penceramah/Pembicara Piawai....................... 3

Pendahuluan .............................................................................................................................. 4

Prinsip-prinsip Bicara............................................................................................................... 6

  1. Prinsip Keindahan............................................................................................. 6

  2. Prinsip Efektivitas............................................................................................. 7

  3. Prinsip Keunikan............................................................................................... 8

  4. Prinsip Kecermatan........................................................................................... 9

  5. Prinsip Kreatifitas............................................................................................. 9

  6. Prinsip Etis........................................................................................................ 10

  7. Prinsip Logis..................................................................................................... 10

  8. Prinsip Kebenaran............................................................................................. 11

Keharmonisan berkata-kata..................................................................................................... 12

  1. Kemenyatuan Pikiran dan Perasaan.................................................................. 12

  2. Kesatuan dari Etika, Logika dan Estetika......................................................... 13

Prinsip-prinsip Pendengar........................................................................................................ 15

  1. Prinsip Motivasi................................................................................................ 16

  2. Prinsip Relasi Kemanusiaan.............................................................................. 17

  3. Prinsip Perhatian............................................................................................... 18

  4. Prinsip Keindraan.............................................................................................. 19

  5. Prinsip Pengertian............................................................................................. 21

  6. Prinsip Ulangan................................................................................................. 22

  7. Prinsip Kegunaan.............................................................................................. 23

Kekuatan dan Kedahsyatan Kata-kata.................................................................................... 24

  1. Memainkan Imajinasi........................................................................................ 25

  2. Melesatkan Semangat dan Keberanian............................................................. 26

  3. Mendatangkan Kekecewaan dan Kesedihan..................................................... 27

  4. Menciptakan Kebahagiaan dan Kegembiraan................................................... 27

  5. Membuat Nyali Ciut......................................................................................... 28

Hambatan-hambatan dalam berbicara dan Pola Pemecahannya......................................... 29

  1. Menebang Berbagai Hambatan......................................................................... 29

  2. Tanpa Persiapan................................................................................................ 30

Bab Kedua : Contoh-contoh pidato menarik.......................................................................... 33

  • Hai Anak durhaka ........................................................................................... 34

  • Generasi Muda Yang Diinginkan Allah.......................................................... 36

  • Pentingnya Ilmu Dalam Menghadapi Arus Era Globalisasi............................ 38

  • Hiasi Diri Dengan Akhlak Mulia Di Zaman Era Modern................................ 40

  • Pemimpin Umat Yang Menuah Ridha Allah................................................... 42

  • Al-Qur’an Sebagai Pedoman Hidup................................................................ 44

  • Jadikanlah Rasulullah Sebagai Tauladan Hidup Kita...................................... 46

Bab Ketiga : Kata-kata Motivasi dan Penggugah Hidup Dari Para Ahli dan Hukama…. 48

  • Kata-kata Bijak dan Motivasi.......................................................................... 49


Bab Pertama:
Panduan Lengkap Menjadi Penceramah/Pembicara Piawai

Pendahuluan
Bismillahirrahmanirrahim

Segala puji bagi Allah, kami memujiNya, memohon pertolongan kepadaNya, Tiada Tuhan yang layak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya. Dia telah mengokohnkan KitabNya, menampakkan firmanNya dengan kebenaran, memfasihkan lisan-lisan ahli islam dengan penjelasan dan pembicaraan. Maka diantara mereka terdapat teladan untuk melakukan kebaikan, dan sebab itu dia sampai pada batas dan puncak anugerah Tuhan.

Nabi Muhammad Saw seorang hamba dan Utusan Allah. Beliau dianugerahi kalam yang luas dan hikmah yang mendalam.

Salawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, selama bunga masih semerbak baunya, dan selama wajah masih bersinar.

Berselawat kepada Nabi Muhammad Saw adalah cahaya mata, penerang batin, minyak wangi kehidupan, pelenyap kecemasan, pengusir kesedihan, pemikat kebahagiaan, pelengkap suka-cita dan penambah muatan cahaya, amma ba’du.

Apakah berbicara itu mudah ?

Sepintas, pertanyaan di atas tampak seperti main-main. Tidak perlu lagi kita menjawabnya, sebab jawabannya sudah jelas. Mungkin, semua orang di dunia ini tahu bahwa berbicara itu tidak sulit. Semua orang yang telah bisa menggunakan akalnya untuk berfikir dan mulutnya untuk berkata-kata akan menjawab demikian. Akan tetapi, jika berbicara itu mudah, maka mudah pulakah berbicara secara cerdas, mengagumkan dan menggetarkan? Inilah persoalannya-bahkan pokok masalahnya.

M.Cuplip dan Allen H.Center dalam bukunya Effective public Relations, menyatakan, “Kata-kata dapat menjadi dinamit!.”

Karena kekuatan bicaralah seseorang bisa mengubah dirinya sendiri menjadi pengecut atau pecundang. Tetapi, karena kekuatan bicara pulalah seseorang sanggup mengubah dirinya menjadi pejuang dan pemenang. Dengan bicara, seseorang bisa membunuh atau mati terbunuh. Dan dengan bicara pula, seseorang bisa menghidupkan atau mengatur irama kehidupan. Orang yang pertama adalah orang yang terkena ledakan merusak dan menghancurkan dari dinamit kata-kata, sedangkan orang yang kedua adalah orang yang tercerahkan oleh ledakan memahamkan, menyadarkan, menyatukan, dan menggerakkan dari dinamit kata-kata.

Ciri-ciri orang yang pertama adalah: (1) tidak tahu kekuatan bicara (2) tidak menyadari manfaat bicara; (3) abai terhadap efek bicara; dan (4) hanya tahu bahwa berbicara adalah (sekedar) mengeluarkan kata-kata. Sementara, ciri-ciri orang yang kedua adalah: (1) paham terhadap kekuatan bicara; (2) Sadar akan manfaat bicara; (3) Waspada terhadap bicara; dan (4) Tahu bahwa berbicara bukan hanya (sekedar) mengeluarkan kata-kata.

Kembali pada pertanyaan awal: berbicara itu mudah, tetapi semudah itu pulakah berbicara secara cerdas, menggetarkan, dan mengguncangkan?

Jika kita hanya menginginkan bisa berbicara, maka keinginan yang demikian ini bukanlah keinginan yang sulit. Tuhan telah menganugrahi kita mulut, lidah, tenggorokan, pita suara, dan alat-alat untuk berbicara lainnya. Kita tinggal manfaatkan alat-alat berbicara ini dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, kita tentu pula tidak hanya ingin bisa berbicara saja, tidak hanya ingin bisa mengeluarkan kata-kata atau kalimat-kalimat dari mulut kita. Kita adalah seperti manusia umumnya yang menginginkan pembicaraan kita didengar, dipahami, diperhatikan, dibenarkan, dan dipraktikkan.

Tetapi didengar, dipahami, diperhatikan, dibenarkan, bahkan dipratikkan oleh siapa? Demikian kira-kira pertanyaannya. Dan, jawabannya adalah, tentu saja, didengar, dipahami, dipraktikkan, dibenarkan, dan bahkan dipratikkan oleh siapa saja.

Keinginan-keinginan yang seperti itu adalah keinginan manusiawi, suatu keinginan yang telah ditetapkan yang telah ditetapkan di kedalaman jiwa kita. Maka, alangkah aneh apabila keinginan-keinginan kita yang seperti itu tidak kita serta dengan usaha untuk mewujudkannya. Hukum keinginan selalu berkata bahwa setiap keinginan tidak akan pernah terwujud manakala tidak diusahakan untuk terwujud, sedangkan setiap usaha berarti pengeluaran energi dan daya. Usaha, energi, dan daya bukanlah bisa didapatkan dengan mudah. Untuk itu saya katakan, berbicara secara cerdas, menggetarkan dan menguncangkan tidaklah mudah.

Oleh karena itu, apabila kita hendak menjadi orang yang hebat dan piawai dalam berbicara di muka umum, atau apabila kita ingin menjadi pembicara yang hebat, memukau, menggetarkan mengguncangkan, dan cerdas. Saya tawarkan Anda untuk membaca buku yang sekarang ini ada di hadapan Anda. Saya akan mengajak Anda untuk menjadi pembicara yang cerdas, menggetarkan, dan menguncangkan.

Melalui buku ini, saya ingin mengajak Anda, mengajak kepribadian secara keseluruhan, untuk menjadi hebat melalui kemampuan berbicara. Dengan kata lain, melalui buku ini, saya tidak hanya ingin mengajak “mulut Anda untuk berbicara” melainkan “Keseluruhan dari diri Anda untuk berbicara.”

Prinsip-Prinsip Bicara

Ketika orang tengah berbicara, sesungguhya ia tengah mengandaikan hal-hal berikut ini :



  • Siapakah yang berbicara?

  • Apa isi pembicaraannya?

  • Bagaimana gaya bicaranya?

  • Mengapa dia berbicara demikian?

  • Untuk apa dia berbicara demikian?

  • Dengan siapa dia berbicara?

  • Dimanakah pembicaraan itu berlangsung?

  • Apa yang dia harapkan dari orang yang di ajak berbicara?

Hal-hal itulah yang sesungguhnya tengah terjadi ketika saya atau Anda tengah berbicara, berbicara apa saja dan kepada siapa saja. Oleh karenanya, untuk menilai apakah sebuah pembicaraan itu bernilai atau tidak, bermanfaat atau tidak, cerdas atau tidak, dan seterusnya, maka kita memerlukan pengetahuan dan pemahaman tentang segala hal yang berkaitan dengan hal-hal tersebut.

Adalah penting untuk melihat orang yang berbicara sebagaimana penting pula untuk melihat apa yang di bicarakannya. Kita tidak bisa hanya melihat siapa orang yang berbicara, hanya melihat apa yang dibicarakannya, bagaimana gaya dia berbicara, dan seterusnya. Kita tidak bisa melihat satu hal dari semua hal di atas. Kita harus melihat semuanya. Harus menganalisis semuanya. Dan, inilah yang kita maksud dengan istilah “prinsip-prinsip bicara”.

Apakah berbicara itu harus memiliki prinsip? Tentu saja. Apabila pembicaraan tidak didasarkan pada prinsip tertentu, tentu saja pembicaraan lebih banyak mendatangkan dan menghasilkan kesia-siaan belaka. Semakin banyak kata yang terucapkan, semakin aneh di pendengaran semakin sedikit kata yang di ucapakan, semakin sulit ia didengarkan, ini terjadi sebab pembicaraan tidak didasarkan pada prinsip-prinsip berbicara sebagaimana yang akan kita kupas dalam bab ini.

Orang yang fasih dalam bicaranya, ia akan menjadi manusia yang hebat, manusia yang besar, dan patut untuk dibanggakan.

Tujuan seni berbicara yang sebenarnya adalah: (1) menampilkan keindahan; (2) Membuktikan maksud pembicaraan; (3) Menampilkan kebenaran.

Saya telah mencatat setidak-tidaknya ada delapan prinsip berbicara yang perlu sekali kita perhatikan sekaligus pratikkan.



1. Prinsip Keindahan.

Prinsip yang pertama yang perlu kita pegang dan praktikkan adalah prinsip keindahan, yakni keindahan berbicara atau keindahan berkata-kata.

Saya menganjurkan kepada Anda bahwa untuk memahami hakikat keindahan, Anda perlu mendengarkan syair-syair atau membaca karya-karya sastra. Kenapa saya katakana demikian? Sebab penyair atau sastrawan telah diakui sebagai orang yang mempresentasikan keindahan bahasa atau keindahan kata-kata. Dengarkan, baca, dan renungkanlah contoh berikut ini :

Bidadari

“ Jika rembulan telah sempurna di malam hari, kau lihat dia memiliki keistimewaan yang jelas dari rembulan itu. Senyumnya menyibak gigi yang indah, laksana mutiara yang terpendam di kedalaman samudra. Andai alas kaki yang dipakai menginjak kerikil, niscaya akan tumbuh bunga daripadanya. Kau bisa mengikat pinggangnya, yang laksana dahan raihan berdaun hijau lebat. Kalau saja ludahnya yang manis itu jatuh ke laut, niscaya air laut menjadi minuman yang baik bagi penduduk darat.”



(Abdul Wahid bin Zaid)
Demikianlah prinsip keindahan yang ditetapkan dalam berbicara atau dalam berkata-kata.

Agar Anda bisa mengucapkan kata-kata yang indah, Anda bisa menempuh langkah-langkah berikut ini:



  • Baca dan lagukan syair-syair yang indah. yang Anda kenal dan Anda dapatkan. Saya kira Anda tidak akan mengalami kesulitan untuk mencari dan mendapatkan syair-syair yang indah ini.

  • Berlatihlah Anda menciptakan sebuah syair sebagaimana syair-syair yang telah Anda baca dan lagukan di atas.

  • Kembangkanlah daya imajinasi anda untuk merangkai kata-kata yang indah sebagaimana syair-syair yang telah anda baca.

  • Berlatihlah secara tekun, teliti, dan sabar, baik untuk mengucapkan syair-syair, baik yang Anda tulis sendiri ataupun bukan

Bahasa yang indah dapat diketahui melalui hal-hal berikut:.

  • Penggunaan kata-kata sambung seperti laksana, seumpama, bagai, bak, dan seterusnya.

  • Penggunaan metafora-metafora.

  • Penggunaan analogi-analogi

  • Bersumber dari hati, bukan sekedar dari mulut.




  1. Prinsip Efektivitas.

Prinsip yang kedua dari berbicara adalah prinsip efektivitas.

Efektivitas berbagai kamus dan ensiklopedia memaknainya, beasal dari kata efek. Efektivitas berarti memiliki efek, mempunyai efek, atau menghendaki efek. Efektivitas berarti memiliki tujuan, menunjukka taraf atau kadar tercapainya tujuan.

Jadi dilihat dari segi bahasa, efektif berarti cara yang mudah dan tepat dalam mencapai suatu tujuan, target atau sasaran.

Para guru bahasa kita mengatakan :kalimat efektif adalah kalimat paling baik,paling tepat dan paling cepat diungkapkan untuk mencapai maksud dan tujuan yang ada dibalik kalimat itu saat kalimat itu diucapkan

Bahasa atau bicara yang efektif, dengan demikian, bicara yang tidak “memboroskan” kata-kata ;tidak mengobral kata-kata ; atau menyia-yiakan kata-kata.Bahasa atau bicara yang demikian ini,memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1.Tidak berputar-putar ; 2.Tidak banyak menggunakan kata sambung ; 3.Tidak mengandung kata-kata yang bersayap (bermakna ganda); 4.Lebih menekankan pemahaman daripada susunan kata ; 5.Singkat,padat dan jelas. Maka, apabila suatu kalimat tidak mencirikan hal-hal tersebut,kita bisa mengatakanya sebagai kalimat yang tidak efektif.Apabila Anda berbicara tidak menggunakan dalil-dalil diatas, berarti Anda berbicara tidak efektif.Perhatikan dibawah ini,contoh kalimat yang efektif ;

Rasulullah SAW.bersabda;

“Hai anak muda! Aku ingin mengajarimu beberapa kalimat.Jagalah Allah, maka Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau temukan Dia dihadapanmu. berkenalanlah kamu dengan Allah diwaktu makmur, maka Dia akan mengenalmu diwaktu sulit. Jika kamu meminta, maka mintalah kepada Allah. Jika kamu memerlukan pertolongan, maka mintalah pertolongan kepada Allah.” (HR At-Tirmidzi).

Berbicaralah Anda berbicara secara efektif.Selamat mencoba !


  1. Prinsip Keunikan

Prinsip ketiga dari berbicara adalah prinsip keunikan.

Kamus mengartikan kata “unik” sebagai “hanya satu-satunya”, ”tak ada duanya”, “tak ada yang menyamai”

Sesuatu yang unik, dengan demikian, berarti sesuatu yang hanya satu-satunya; sesuatu yang tidak ada duanya ;sesuatu yang tak ada bandingannya; dan sesuatu yang tak ada yang menyamainya .

Bila kita mengatakan “rumah itu unik” ,berarti:



  • Rumah itu hanya satu-satunya yang seperti itu.

  • Rumah yang seperi itu tak ada duanya.

  • Rumah yang seperti itu tak ada bandinganya.

  • Rumah yang seperti itu tak ada yang menyamainya

Ketika saya mengatakan bahwa salah satu prinsip berbicara adalah perinsip keunikan, maka yang saya maksud disini bukanlah kita harus dengan benar-benar unik. Setidaknya, kita melatih diri untuk bisa mengembangkan perkataan-perkataan yang unik. Ciri dari perkataan atau bicara yang seperti ini – sebagai ciri agar kita bisa mendekati perkataan atau bicara yang unik – adalah sebagai berikut :

  • Tidak sering diucapkan

  • Mengejutkan apabila didengar

  • Tidak meniru perkataan atau bicara orang lain ( termasuk dalam hal ini adalah gaya bicara )

  • Menghindari perkataan – perkataan yang sering diucapkan

Perhatikan contoh berikut ini :

“ Orang yang paling zalim ( menganiaya ) terhadap dirinya ialah orang yang merendahkan dirinya kepada orang yang tidak menghormatinya, dan ingin dicintai oleh orang yang tidak berguna baginya, dan menerima pujian dari orang yang tidak mengenalnya”. (Imam Asy-Syafi’i)


Sudah siapkah Anda mengembangkan perkataan atau pembicaraan yang unik ?....

4. Prinsip kecermatan

Prinsip selanjutnya dari berbicara adalah prinsip kecermatan. Kata “cermat “ sering dimaknai sebagai “teliti “ , “ tepat“, dan “detail“. ketika ada orang yang berkata demikian, “cermatilah dulu barang – barang bawaanmu. Jangan – jangan masih ada yang ketinggalan. “maka, maksudnya adalah “ periksa dulu dengan sungguh – sungguh, lihat satu persatu “.

Untuk menilai apakah pidato atau pembicara itu cermat atau tidak, maka hal-hal berikut ini bisa dijadikan tolak ukur untuk mengetahuinya: pengucapan kata-kata secara salah; penggunaan yang salah terhadap kata-kata; kata- kata yang tidak perlu untuk diucapkan; dan kata-kata yang perlu untuk diucapkan.

Jika Anda berbicara, maka Anda harus berusaha menghindari pengucapan, kata-kata yang salah. Anda juga tidak perlu berlagak menggunakan “kata-kata keren“ ( intelek / asing ) agar dinilai pendengar bahwa Anda “hebat“. padahal Anda tidak tahu betul makna dan hakikat dari kata-kata yang Anda gunakan tersebut. Anda juga tidak perlu memboroskan kata-kata, dimana kata-kata tersebut justru akan membuat “perkataan Anda kedodoran“ pun Anda tidak boleh menghilangkan bagian dari kata-kata yang seharusnya tidak dihilangkan, sebab hal ini akan membingungkan pendengar Anda, dan bisa jadi Anda sendiri akan bingung.


5. Prinsip Kreativitas

Prinsip selanjutnya dari berbicara adalah prinsip kreativitas.

Apakah arti kata “kreatif“ itu? Kamus mengartikan kata “kreatif“ dengan “memiliki daya cipta“ atau “memiliki kemampuan untuk menciptakan“

Ketika dikatakan “Tuhan adalah Maha Kreator“ artinya; “Tuhan itu Maha Menciptakan“. ketika seseorang berkata “Dia itu seorang yang pandai berkreasi dibidang musik“ ketika diucapkan “kreasinya sangat indah“ maka artinya “Ciptaannya benar-benar indah“.

Orang yang kreatif, biasanya adalah orang yang kuat, tekun, ulet, penuh inovasi, dan tidak puas dengan keadaan yang ada.Orang yang seperti itu akan lebih banyak bekerja dari pada diam. Dia akan lebih banyak berbicara tentu dengan pembicaraan yang bermutu-daripada diam. Dari segi pembicaraan, dia berusaha mencari kata-kata yang unik, dan nikmat diucapkan maupun didengar.

Bagaimanakah berbicara secara kreatif itu? Demikianlah kira-kira pertanyaannya. Berbicara yang kreatif berarti berbicara yang memperhatikan unsur-unsur kesegaran kata, kebaruan kalimat, keunikan kata dan kalimat, serta kejeniusan dalam membuat istilah sedemikian rupa, sehingga akan mampu mengahadirkan dan melahirkan kenikmatan dan kesenangan bagi orang-orang yang mendengarnya. Berbicara yang seperti ini, menurut saya benar-benar tidak ada rumusnya. Berbicara seperti ini sangat dipengaruhi oleh: Spontanitas; Intuisi bahasa; kecerdasan orang yang berbicara; dan Improvisasi.


6. Prinsip Etis

Prinsip selanjutnya dari berbicara adalah prinsip etis. Tampaknya penting bagi kita untuk memahami dan mempraktikkan prinsip ini dalam bicara kita.

Bagaimana yang dimaksud dengan berbicara secara etis itu? Berbicara secara etis adalah berbicara dengan memperhatikan nilai-nilai etika dalam mengeluarkan potongan kata atau kalimat.

Dalam komunikasi dan interaksi antara Anda dengan orang-orang yang berada disekitar Anda, Anda harus berbicara secara etis!

Tetapi, bagaimana berbicara secara etis itu? berbicara secara etis adalah yang dicirikan oleh hal-hal sebagai berikut:


  • Tidak mengucapkan kata-kata kotor atau cabul

  • Tidak mengucapkan kata-kata yang tidak sopan

  • Tidak berteriak-teriak ketika lawan bicara tidak menyuruh anda berteriak

  • Tidak melirihkan suara ketika lawan bicara anda meminta anda untuk mengeraskannya

  • Tidak menyinggung hati dan perasan lawan bicara anda, kecuali memang komunikasi antara anda dan dia memaksa anda untuk melakukan itu.


  1   2   3   4   5


Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©anasahife.org 2016
rəhbərliyinə müraciət