Ana səhifə

Buaya dan kadal


Yüklə 13.88 Kb.
tarix07.05.2016
ölçüsü13.88 Kb.
BUAYA DAN KADAL

“Asslmu ‘alaikum, Pk Bin sy mnt ijin gak msk krj hari ini ya. Ada msbh paman sy meninggl td mlm. Ini sy lg dirumh duka. Tx’s” Begitulah bunyi pesan singkat dari Rico pagi ini. “Wa alaikum salam. Baik mas, turut berdukacita ya mas. ‘n jgn lupa, fotokopi utk surat laporan kematiannya besok ya mas!.” Aku membalas pesan singkat tersebut.

Usai senam pagi, kemudian dilanjutkan dengan briefing job, untuk membagi dan mengatur rencana kerja hari ini. Sebagai closing statement dalam briefing tersebut, ikrar utamakan keselamatan kerja, dan slogan 5K seperti biasanya.

Menjelang istirahat break pertama, tiba-tiba dari HP-ku masuk SMS kembali, “Pak Bin, yg meninggl khan tetanggaku, jd aku malu mo mnt fto copy-ny.”Tulis Rico. “OK, kalo bgt, kamu ambil gambarnya, orang2 yg ngelawat aja mas, pake kamera HP jg cukup”. Aku menulis balasan SMS tersebut. Selang beberapa menit, sudah ada balasan masuk lagi. “Pak Bin, org-org yg ngelawat dah pd plng”. Tulis dia kembali.

“Terserah apa yang ada aja dech,…yang penting ada bekas tanda-tanda ada orang meninggal aja.” Isi pesan singkatku dengan kesan sedikit kesal. Dia tidak menjawab lagi. Entah memang karena nggak ada yang dapat dijadikan object foto, atau memang karena dia sudah kehabisan ide untuk melakukan kebohongan.

Menjadi seorang pimpinan disebuah unit kerja, memang sangat menarik dan penuh suka duka. Sukanya tidak perlu aku ceritakan, tetapi dukanya saja yang ingin aku sharing. Memiliki anak buah dengan gaya beraneka macam, itu telah aku alami sejak menjadi Group Leader hingga sekarang. Salah satunya tentang seorang Rico ini.

Rico, adalah salah satu anak buahku yang sudah sering absen, dan jika masuk kerja pun, masih saja ada terlambatnya. Sesuai data dari recording HRMS, dalam kurun waktu 8 bulan terakhir, tercatat 6 kali tidak masuk karena sakit, ijin khusus dan cuti sebanyak 8 kali. Dan terlambat datang atau pulang lebih awal, tercatat 27 kali. Sudah aku berikan teguran lisan berkali-kali, bahkan aku berikan Surat Peringatan, namun masih belum tampak ada perbaikan. Paling-paling dia akan berubah sedikit membaik, setelah aku lakukan coaching and councelling, beberapa waktu kemudian kambuh lagi.

Rico tergolong karyawan yang cerdas dan kreatif, sebelumnya telah banyak hasil-hasil dari improvement yang dia lakukan, baik melalui SS maupun QCC. Entah disebabkan karena apa, sehingga pada awal-awal aku memimpinnya, telah berubah 180 derajat sikapnya terhadap pekerjaan. Sementara diposisiku dalam bagian ini tergolong masih baru.

Salah satu ciri orang pintar dan cerdas atau ber IQ(Intelligence Quotient) tinggi adalah, jago mencari alasan dan solusi. Tetapi dengan kecerdasan yang satu ini, ketika tidak diimbangi dengan SQ(Spiritual Quotient) dan EQ(Emotional Quotient) yang baik, maka akan berdampak negative sangat negative.

Di bagian atau section-ku ini, memang karyawannya adalah orang yang tergolong IQ tinggi. Hal ini penting, karena memang job requirement-nya mensyaratkan seperti ini. Dalam teori kepemimpinan yang pernah aku dapatkan maka, sebetulnya Rico ini awalnya seorang karyawan dengan type Pendaki gunung. Sehingga untuk memimpinnya, cukup digunakan gaya Laisses-Faire.

Walau secara pribadi, teori-teori tersebut sekedar aku ketahui saja, dan tidak terlalu respect dengan teori kepemimpinan ala barat seperti George R. Terry, Warren G. Bennis, dan lain-lain. Bahkan saat mengikuti pelatihan, baik di AMDI ataupun di LPPM, aku sering beradu argument dengan Instruktur Training. Sebab, sebagai seorang muslim, soal kepemimpinan, kita harus mencontoh uswatun hasanah, yaitu Rasulullah SAW, The Best Leader, Best Manager.

Namun ternyata tidaklah mudah mengembalikan seorang Rico kepada kondisi seperti awalnya lagi. Mungkin sudah terlalu parah rasa kekecewaan dalam hatinya. Dengan segala kelihaian dan kepiawaiannya, Rico telah mencoba mencari alasan, untuk tidak masuk kerja dengan aman. Setiap bulan, telah aku buatkan matrik report atas absensi dan presensi dari dia.

Pernah suatu ketika, Rico memprotes atas data-data mengenai dirinya yang aku tunjukkan saat melakukan councelling. “Kenapa pak Bin, selalu awasi aku, dan selalu membuat data tentang aku, sementara untuk yang lain tidak?”. “Mas Rico, merasa seperti itu?” Sergahku kepadanya. Rico tidak menjawab, hanya tatapan matanya menyiratkan tanda setuju. “Itu bagus, berarti mas Rico sadar bahwa selama ini, saya telah memberikan perhatian yang berlebih terhadap anda!”.

“Saya Cuma heran, kenapa saya selalu dicurigai dan diawasi terus, emangnya apa salah saya?” Rico kembali bertanya. “Mas Rico tidak ada yang salah!” Jawabku singkat. “Tapi,..kenapa harus selalu diawasi?” Tambahnya. “Mas Rico saat ini tidak bersalah, tetapi yang benar adalah mas Rico sedang sakit!”. Jawabku dengan nada serius. “Nggak tuch,….saya ngerasa baik-baik aja!”, Sergah Rico dengan yakin.

“Mas Rico ini sedang sakit, tetapi sakitnya belum diketahui. Nah,…layaknya pasien yang sedang sakit, maka setiap saat segala aktivitas dan perkembangan fisik maupun psikis anda harus diambil datanya.” Aku memberikan penjelasan.

Dari hasil pengambilan data tingkah laku Rico tersebut, ternyata hasilnya dapat dijabarkan dalam sebuah grafik dan statistic yang sangat menarik. Intinya, bisa dijadikan contoh penggunaan seven tools-nya QC.



Knowledge dan Skill yang aku dapatkan dari tempatku bekerja, sungguh sangat bermanfaat, bukan saja terbatas di dalam pekerjaan, tetapi dimanapun kita berada. Prinsip 3(san) Gen, atau genba, genjitsu dan genbutsu*), adalah dasar utama saat kita ada masalah. Dalam hal akhlak seorang muslim, hal ini dikenal dengan istilah Tabayyun.**)

Kembali ke permasalahan Rico, karena setiap dia mencoba berbuat ketidakjujuran dengan alasan yang dicari-cari, aku selalu mencoba membuat jebakan-jebakan, agar dia segera menyadari kekhilafannya, hingga pada batas kebuntuan dalam mencari segala upayauntuk beralasan tersebut. Misalnya dia beralasan sedang sakit, maka aku segera inisiatif untuk menjenguknya dengan membawakan buah misalnya. Atau ada tetangga dan keluarga yang meninggal, aku minta ditunjukkan foto surat kematian, atau foto orang yang berta’ziyah. Intinya, setiap keadaan, aku coba untuk meminta kepada siapapun memberikan sebuah bukti yang valid. Di PT Komatsu Indonesia kami sering mengenal istilah “Speech by Data atau Bicara dengan Data”

Setelah kurang lebih empat belas bulan, aku harus bersabar dalam melakukan coaching and councelling kepada Rico, semoga akan mendapatkan hasilnya. Membangun Knowledge dan Skill untuk para karyawan, adalah masih lebih mudah. Tetapi membangun Attitude,.. sungguh sangat sulit dan butuh waktu yang sangat lama. Kini, Rico sudah mulai align terhadap pola kerjaku, dan mulai bersemangat kembali terhadap pekerjaannya. Dia sebenarnya sudah sangat mumpuni dengan pola kerja individunya. Aku tinggal memantaunya agar tidak terjadi error dan hang kembali. “Emang kalo Kadal, gak bakalan bisa menang lawan Buaya!!!”, celetuk Rico saat ketemu aku dan kutepuk-tepuk punggungnya.

=== @Abu Aufa ===

Catatan :

*) genba = tempat yang sebenarnya, genjitsu = keadaan yang sebenarnya, genbutsu = barang

yang sebenarnya.

**) QS 49( Al-Hujuraat) : ayat 6



BIODATA :

Perusahaan : PT KOMATSU INDONESIA

Nama : SUBIYANTO

NRP : 91016

No. HP : 0811-9417-143 / 0812-813-90-121

E-Mail : subiyanto@komi.co.id//abiyaufa@gmail.com





Verilənlər bazası müəlliflik hüququ ilə müdafiə olunur ©anasahife.org 2016
rəhbərliyinə müraciət